Hari yang tidak begitu cerah diawal pekan, membuatku tidak begitu bersemangat menjalani hari-hariku di sekolah. Apalagi sejak tadi, Rival—cowok yang kusukai sejak pertama kali masuk SMP dan sampai sekarang, yang tinggal beberapa bulan lagi ujian umum kelulusan SMA—belum datang juga. Sepertinya aku telah dikutuk oleh Dewi Cinta agar aku tidak bisa lepas dari cowok itu. Tidak disangka, aku bisa menyukai anak berandalan seperti dia. Entah apa yang salah dengan otakku. Padahal, kemampuanku dalam pelajaran selalu nomor satu dibandingkan dengan semua anak yang bersekolah di sini. Kalau sampai ada yang tahu bahwa aku menyukai anak paling berandal di sekolah, semua orang pasti akan menganggapku gila. Tapi, inilah yang aku sebut cinta.
Pagi ini aku diminta oleh Bu Mirna, guru biologiku, untuk mengambil buku catatan teman-temanku di ruangan beliau. Setelah kutemukan yang kucari, aku berjalan kembali ke kelasku. Di tengah perjalanan, kudapatkan Rival yang tengah berusaha memanjat dinding bermaksud bolos sekolah. Dan entah kenapa, bibirku terbuka dan lidahku mulai bergerak menyusun kata demi kata.
“Jangan pergi!” pintaku setengah berteriak. Rival sempat berbalik dan terus saja melanjutkan pelariannya setelah sadar bahwa aku yang ada di belakangnya dan mengharapkan agar dia tetap berada di sini. Rasanya aneh, udara yang sejak tadi terasa dingin, sekarang tiba-tiba terasa panas dan penuh keringat.
* * *
Sejak aku berani buka mulut pada Rival, aku mulai terbiasa. Dan dia memperlihatkan sikap yang tidak begitu suka denganku, dan membuatku merasa aneh jika berada di depannya.
“Hai!” sapaku untuk yang beberapa kalinya. Tapi dia hanya diam tanpa menatapku. “Hari ini kamu ada pr matematika kan? Kalo kamu mau, aku bisa bantu mengerjakannya.” Gumamku dengan perasaan tak menentu.
“Udah deh, kamu nggak usah terus-terusan cari perhatian. Sampai kapan pun, kamu nggak akan bisa jadi pacarku.” Balasnya dengan ketus lalu berdiri dan pergi begitu saja.
Waktu berjalan begitu saja dan aku terus saja berlaku yang sama pada Rival, dan dia pun tetap berbicara ketus padaku. Dan semua teman-temanku sepertinya sudah mulai mengira-ngira bahwa aku menyimpan perasaan pada Rival. Ternyata dugaanku benar, mereka sangat heran dan menganggapku sudah gila.
“Siapa sangka, cewek sepintar Putri bisa menyukai cowok paling populer dengan kenakalannya?”
“Heran, kok bisa ya Putri tahan menyukai Rival. Padahal udah jelas, nggak akan pernah ada cewek yang bisa jinakkan cowok itu. Tapi, dia tetap maksa. Naya aja, cewek paling cantik di sekolah ini, ditolak menah-mentah. Apalagi dia yang tampangnya pas-pasan.” Sekilas kudengar orang-orang bergosip tentangku. Tapi aku tetap tidak peduli.
“Hai!” sapaku pada Rival saat menemukannya di kantin sekolah. Tapi dia hanya menatapku sejenak dengan tatapan sinisnya. “Besok, kamu ada ujian,kan? Kalo kamu mau, aku bisa bantu kamu belajar.” Lanjutku dengan penuh ketulusan.
“Nggak ada gunanya! Nggak belajar juga, aku bisa lulus.” Balasnya dengan nada yang ketus tanpa menatapku.
“Kamu nggak boleh bilang kayak gitu, nggak lama lagi, kan kita ada UAN.” Ujarku.
“Eh, kalo kamu punya hobi belajar, belajar aja sendiri. Nggak usah ajak aku.” Gumamnya lalu pergi begitu saja, meninggalkanku bersama perasaanku yang suram.
Aku berjalan menuju kelasku dan di tengah perjalanan, aku dihentikan oleh anak berandal lainnya. Mereka menggangguku dan mencoba membuatku menangis. Aku memang paling takut jika diganggu oleh anak berandal seperti mereka. Hampir saja air mataku menetes, tiba-tiba terdengar suara dari belakang dan anak berandal di sebelahku jatuh karena ada pukulan yang melayang di pipi kirinya. Dan dengan kompak, anak berandal lainnya menghindar dan pergi begitu saja. Aku berbalik dan kudapatkan Rival berdiri di belakangku, sambil memegang kerah baju salah satu dari mereka, lalu mengancamnya dan melepasnya setelah itu.
“Jangan geer! Aku lakukan ini bukan karena kamu.” Balasnya lalu pergi begitu saja. Tapi walaupun begitu, tetap saja aku merasa sangat senang.
Keesokan harinya, aku pergi ke kelas Rival dengan tugas-tugasnya yang telah kukerjakan. Kuberikan tugas itu padanya, dan tanpa kuduga dia menerimanya.
“Akhirnya kamu terima juga niat baik aku.” Gumamku dan tiba-tiba air wajahnya berubah dan membuatku merasa aneh.
“Ambil!!” ujarnya dengan ketus seraya melempar kertas yang tadi di atas meja. “Aku nggak butuh niat baik kamu. Sekarang kamu ambil apa yang kamu bawa tadi, lalu pergi.” Sambungnya dengan ketus. Mendengarnya berkata seperti itu, membuatku merasa bersalah. Rasanya aku ingin mengunci mulutku dan memutar waktu sekali lagi.
Beberapa hari kemudian, aku mendengar kabar bahwa Rival diancam tidak akan diikutkan ujian, jika semua tugasnya tidak dimasukkan hingga akhir pekan ini. Lalu dengan semangat juang 45, aku mengerjakan semua tugas-tugasnya. Rasanya lelah sekali karena aku tidak tidur semalaman.
Sepulang sekolah, tiba-tiba Rival mendatangiku dengan ekspresi yang tidak kumengerti.
“Sebenarnya mau kamu apa?” Tanyanya dengan ketus.
“Maksud kamu?” balasku.
“Aku nggak suka kamu berlagak baik dengan mengerjakan semua tugasku.” Lanjutnya.
“Tapi aku tulus lakukan itu.” Ujarku.
“Jangan lakukan itu lagi.” Mendengar kata terakhirnya, aku hanya bisa diam membisu. “Aku nggak mau repotkan kamu, aku lebih senang lakukan sesuatu sendiri.” Lanjutnya, dan aku hanya terdiam.
“Putri…” gumamnya sejenak dan membuat jantungku berdegup kencang karena baru kali ini dia menyebut namaku. “Kalo kamu seperti itu, kapan aku bisa sukses dengan usahaku sendiri? Ini sama saja kamu memperbodoh aku. Kalo memang kamu mau bantu, harusnya kamu bantu aku belajar, bukan kayak gini.” Lanjutnya dan membuatku tertegun.
“Alamat rumah kamu dimana? Aku mau datang belajar sama kamu.” Lanjutnya setelah lama aku tidak memberi respon. Mendengarnya, aku sangat senang dan hanya bisa tersenyum. Tapi sebelum aku sempat menjawab, dia sudah angkat bicara lebih dulu.
“Jangan gr!!! Aku cuma nggak mau terus jadi anak nakal. Jadi jangan pikir aku cuma mau kenal kamu lebih jauh.” Gumamnya dengan wajah memerah.
“Oh ya??” Gumamku seraya tersenyum. Dan tanpa kuduga, dia juga tersenyum padaku untuk yang pertama kalinya selama aku mengenalnya.
“Ku antar pulang, ya!” lanjutnya seraya tersenyum dengan wajah malu-malu.
Mungkin di sinilah awal dari kisahku bersama serigala yang kucintai berada di sisiku. Kupikir aku telah mendapatkan hatinya. Dan saat dia menggandeng tanganku, semua orang bertanya padaku, bagaimana caranya aku bisa menjinakkannya. Dan aku hanya bisa tersenyum mendengarnya.