I LovE mY siTe

Juni 11, 2007

HIV

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — fAny @ 7:28 am

 

HIV-AIDS

 

AIDS singkatan dari Acrquired Immune Deficiencity Syndrome dan merupakan sekumpulan gejalan penyakit yang timbul karena menurunnya kekebalan tubuh. AIDS disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) di dalam tubuh. Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakansuatu virus yang menyerang sel darah putih manusia dan menyebabkan menurunnya kekebalan daya tahan tubuh, sehingga mudah diserang infeksi/penyakit.

Virus HIV ini dapat hidup di dalam 4 cairan tubuh manusia yaitu:

  1. cairan darah
  2. cairan sperma
  3. cairan vagina
  4. air susu ibu

Untuk dapat mendeteksi keberadaan virus HIV membutuhkan waktu yang cukup lama (5 sampai 10 tahun). Keberadaan virus ini dalam darah terjadi tanpa menunjukkan gejala penyakit tertentu dan keadaan ini disebut masa HIV positif. Bila seseorang terinfeksi HIV untuk pertama kali dankemudian memeriksakan diri dengan menjalani tes darah, maka dalam tes pertama tersebut belum tentu dapat dideteksi adanya virus HIV di dalam darah. Hal ini disebabkan tubuh kita membutuhkan waktu 3-6 bulan untuk membentuk antibody yang akan terdeteksi oleh tes darah tersebut. Masa ini disebut window period (periode jendela). Dalam masa ini, bila orang tersebut ternyata sudah mempunyai virus HIV di dalam tubuhnya (walaupun belum bisa dideteksi melalui tes darah), ia sudah bisa menularkan HIV.

Secara umum tanda-tanda utama yang terlihat pada seseorang yang sudah sampai pada tahapan AIDS adalah:

  1. berat badan menurun lebih dari 10% dalam waktu singat
  2. demam tinggi berkepanjangan (lebih dari 1 bulan)
  3. diare berkepanjangan (lebih dari 1 bulan)

Selain itu, terdapat gejala-gejala sebagai berikut:

  1. batuk berkepanjangan (lebih dari 1 bulan)
  2. kelainan kulit dan iritasi (gatal)
  3. infeksi jamur pada mulut dan kerongkongan
  4. pembengkakan kelenjar getah bening di seluruh tubuh, seperti di bawah telinga, leher, ketiak, dan lipatan paha.

 

AIDS tidak ditularkan melalui:

1.      makan dan minum bersama, atau pemakaian alat makan minum secara bersama

2.      pemakaian fasilitas umum bersama, seperti telepon umum, WC umum, dan kolam renang

3.      ciuman, senggolan, pelukan, dan kegiatan sehari-hari lainnya

4.      lewat keringat, atau gigitan nyamuk

ini tulisanku cerpen “i Love a woLf”

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — fAny @ 7:22 am

Hari yang tidak begitu cerah diawal pekan, membuatku tidak begitu bersemangat menjalani hari-hariku di sekolah. Apalagi sejak tadi, Rivalcowok yang kusukai sejak pertama kali masuk SMP dan sampai sekarang, yang tinggal beberapa bulan lagi ujian umum kelulusan SMAbelum datang juga. Sepertinya aku telah dikutuk oleh Dewi Cinta agar aku tidak bisa lepas dari cowok itu. Tidak disangka, aku bisa menyukai anak berandalan seperti dia. Entah apa yang salah dengan otakku. Padahal, kemampuanku dalam pelajaran selalu nomor satu dibandingkan dengan semua anak yang bersekolah di sini. Kalau sampai ada yang tahu bahwa aku menyukai anak paling berandal di sekolah, semua orang pasti akan menganggapku gila. Tapi, inilah yang aku sebut cinta.

Pagi ini aku diminta oleh Bu Mirna, guru biologiku, untuk mengambil buku catatan teman-temanku di ruangan beliau. Setelah kutemukan yang kucari, aku berjalan kembali ke kelasku. Di tengah perjalanan, kudapatkan Rival yang tengah berusaha memanjat dinding bermaksud bolos sekolah. Dan entah kenapa, bibirku terbuka dan lidahku mulai bergerak menyusun kata demi kata.

“Jangan pergi!” pintaku setengah berteriak. Rival sempat berbalik dan terus saja melanjutkan pelariannya setelah sadar bahwa aku yang ada di belakangnya dan mengharapkan agar dia tetap berada di sini. Rasanya aneh, udara yang sejak tadi terasa dingin, sekarang tiba-tiba terasa panas dan penuh keringat.

* * *

Sejak aku berani buka mulut pada Rival, aku mulai terbiasa. Dan dia memperlihatkan sikap yang tidak begitu suka denganku, dan membuatku merasa aneh jika berada di depannya.

“Hai!” sapaku untuk yang beberapa kalinya. Tapi dia hanya diam tanpa menatapku. “Hari ini kamu ada pr matematika kan? Kalo kamu mau, aku bisa bantu mengerjakannya.” Gumamku dengan perasaan tak menentu.

“Udah deh, kamu nggak usah terus-terusan cari perhatian. Sampai kapan pun, kamu nggak akan bisa jadi pacarku.” Balasnya dengan ketus lalu berdiri dan pergi begitu saja.

Waktu berjalan begitu saja dan aku terus saja berlaku yang sama pada Rival, dan dia pun tetap berbicara ketus padaku. Dan semua teman-temanku sepertinya sudah mulai mengira-ngira bahwa aku menyimpan perasaan pada Rival. Ternyata dugaanku benar, mereka sangat heran dan menganggapku sudah gila.

“Siapa sangka, cewek sepintar Putri bisa menyukai cowok paling populer dengan kenakalannya?”

“Heran, kok bisa ya Putri tahan menyukai Rival. Padahal udah jelas, nggak akan pernah ada cewek yang bisa jinakkan cowok itu. Tapi, dia tetap maksa. Naya aja, cewek paling cantik di sekolah ini, ditolak menah-mentah. Apalagi dia yang tampangnya pas-pasan.” Sekilas kudengar orang-orang bergosip tentangku. Tapi aku tetap tidak peduli.

“Hai!” sapaku pada Rival saat menemukannya di kantin sekolah. Tapi dia hanya menatapku sejenak dengan tatapan sinisnya. “Besok, kamu ada ujian,kan? Kalo kamu mau, aku bisa bantu kamu belajar.” Lanjutku dengan penuh ketulusan.

“Nggak ada gunanya! Nggak belajar juga, aku bisa lulus.” Balasnya dengan nada yang ketus tanpa menatapku.

“Kamu nggak boleh bilang kayak gitu, nggak lama lagi, kan kita ada UAN.” Ujarku.

“Eh, kalo kamu punya hobi belajar, belajar aja sendiri. Nggak usah ajak aku.” Gumamnya lalu pergi begitu saja, meninggalkanku bersama perasaanku yang suram.

Aku berjalan menuju kelasku dan di tengah perjalanan, aku dihentikan oleh anak berandal lainnya. Mereka menggangguku dan mencoba membuatku menangis. Aku memang paling takut jika diganggu oleh anak berandal seperti mereka. Hampir saja air mataku menetes, tiba-tiba terdengar suara dari belakang dan anak berandal di sebelahku jatuh karena ada pukulan yang melayang di pipi kirinya. Dan dengan kompak, anak berandal lainnya menghindar dan pergi begitu saja. Aku berbalik dan kudapatkan Rival berdiri di belakangku, sambil memegang kerah baju salah satu dari mereka, lalu mengancamnya dan melepasnya setelah itu.

“Jangan geer! Aku lakukan ini bukan karena kamu.” Balasnya lalu pergi begitu saja. Tapi walaupun begitu, tetap saja aku merasa sangat senang.

Keesokan harinya, aku pergi ke kelas Rival dengan tugas-tugasnya yang telah kukerjakan. Kuberikan tugas itu padanya, dan tanpa kuduga dia menerimanya.

“Akhirnya kamu terima juga niat baik aku.” Gumamku dan tiba-tiba air wajahnya berubah dan membuatku merasa aneh.

“Ambil!!” ujarnya dengan ketus seraya melempar kertas yang tadi di atas meja. “Aku nggak butuh niat baik kamu. Sekarang kamu ambil apa yang kamu bawa tadi, lalu pergi.” Sambungnya dengan ketus. Mendengarnya berkata seperti itu, membuatku merasa bersalah. Rasanya aku ingin mengunci mulutku dan memutar waktu sekali lagi.

Beberapa hari kemudian, aku mendengar kabar bahwa Rival diancam tidak akan diikutkan ujian, jika semua tugasnya tidak dimasukkan hingga akhir pekan ini. Lalu dengan semangat juang 45, aku mengerjakan semua tugas-tugasnya. Rasanya lelah sekali karena aku tidak tidur semalaman.

Sepulang sekolah, tiba-tiba Rival mendatangiku dengan ekspresi yang tidak kumengerti.

“Sebenarnya mau kamu apa?” Tanyanya dengan ketus.

“Maksud kamu?” balasku.

“Aku nggak suka kamu berlagak baik dengan mengerjakan semua tugasku.” Lanjutnya.

“Tapi aku tulus lakukan itu.” Ujarku.

“Jangan lakukan itu lagi.” Mendengar kata terakhirnya, aku hanya bisa diam membisu. “Aku nggak mau repotkan kamu, aku lebih senang lakukan sesuatu sendiri.” Lanjutnya, dan aku hanya terdiam.

“Putri…” gumamnya sejenak dan membuat jantungku berdegup kencang karena baru kali ini dia menyebut namaku. “Kalo kamu seperti itu, kapan aku bisa sukses dengan usahaku sendiri? Ini sama saja kamu memperbodoh aku. Kalo memang kamu mau bantu, harusnya kamu bantu aku belajar, bukan kayak gini.” Lanjutnya dan membuatku tertegun.

“Alamat rumah kamu dimana? Aku mau datang belajar sama kamu.” Lanjutnya setelah lama aku tidak memberi respon. Mendengarnya, aku sangat senang dan hanya bisa tersenyum. Tapi sebelum aku sempat menjawab, dia sudah angkat bicara lebih dulu.

“Jangan gr!!! Aku cuma nggak mau terus jadi anak nakal. Jadi jangan pikir aku cuma mau kenal kamu lebih jauh.” Gumamnya dengan wajah memerah.

“Oh ya??” Gumamku seraya tersenyum. Dan tanpa kuduga, dia juga tersenyum padaku untuk yang pertama kalinya selama aku mengenalnya.

“Ku antar pulang, ya!” lanjutnya seraya tersenyum dengan wajah malu-malu.

Mungkin di sinilah awal dari kisahku bersama serigala yang kucintai berada di sisiku. Kupikir aku telah mendapatkan hatinya. Dan saat dia menggandeng tanganku, semua orang bertanya padaku, bagaimana caranya aku bisa menjinakkannya. Dan aku hanya bisa tersenyum mendengarnya.

ini cerpen ku “Secret…ssttt!!!”

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — fAny @ 7:15 am

“Malam ini langit sangat suram. Tidak satu pun bintang yang menggantungkan dirinya. Bulan juga, cahayanya tidak begitu terang. Ada awan hitam yang mencoba menutupi mereka dari pandanganku. Begitu juga dengan hatiku. Sekarang hatiku juga sangat suram. Yang ada hanya kenanganku bersama Dinal, cowok yang sudah lama kutaksir itu, yang sudah tidak kental lagi dalam ingatanku. Rumah yang berdiri tegak di hadapanku saat ini entah kenapa ingin kulihat selamanya. Mungkin karena di dalamnya tinggal seseorang yang sama seperti di dalam hatiku.”

Baru saja aku memulai lamunanku, sudah terdengar suara mama yang khas ‘keibuannya’ dari balik pintu kamarku. Kututup jendela kamarku lalu bergegas membuka pintu untuk beliau. Ternyata mama membawa sebuah kabar, dan tentunya kabar yang baik buatku. Seseorang yang begitu indah, ingin menemuiku di luar sana. Cepat-cepat aku berlari menuruni tangga dan hampir saja aku terjatuh. Kubuka pintu utama, dan di luar sana kulihat seorang cowok yang sangat indah di mataku, Dinal. Malam ini penampilannya agak berbeda dengan yang biasanya. Sepertinya sungguh sangat keren.

Aku lalu menyapanya dan berusaha tersenyum semanis mungkin. Tanpa banyak bicara, Dinal langsung mengajakku jalan-jalan. Dan tanpa pikir panjang, kuterima tawarannya. Setelah kurang lebih 10 menit mengganti pakaian, aku kembali pada Dinal. Lalu selanjutnya, kami berdua berangkat dengan mengendarai motor, seperti biasanya saat dia mengantarku berangkat ke sekolah.

Ternyata ‘jalan-jalan’ yang dimaksud Dinal adalah ke pantai. Walaupun tidak begitu suka dengan pantai, tapi kalau bersamanya, kemana saja akan terasa menyenangkan buatku. Kami lalu duduk bersampingan di pinggir pantai, sambil melihat cahaya dari langit yang terpantul indah dengan sempurna di atas air. Kualihkan pandanganku ke langit, ternyata awan hitam yang tadinya menutupi indahnya cahaya bintang dan bulan, kini telah pergi menjauh. Semuanya menjadi terang, begitu juga dengan hatiku.

Tidak lama kemudian, kurasakan ada sesuatu yang menyentuh jemariku, lalu menggenggamnya erat. Perasaan gugup dan malu menyelimuti seluruh tubuhku, membuat seluruh organku tidak dapat bergerak. Termasuk jantungku, tidak mampu untuk berdetak lagi dengan normal. Pada akhirnya, kudengar seseorang membisikkan namaku di sudut telingaku. Aku lalu berbalik dan mendapatkan Dinal tersenyum manis padaku. Kubalas senyumannya dan berharap itulah senyuman termanis yang pernah kuperlihatkan pada siapapun. Selang beberapa detik kemudian, wajahnya terasa semakin dekat. Makin dekat, dan…

“Rima.” Aku tersentak kaget mendengar suara mama yang sumbernya tidak begitu jauh dariku. Kubuka mataku dan melihat mama yang sedang duduk di ujung ranjangku. Dan tersadar, semua yang kurasakan indah beberapa saat yang lalu, hanyalah sebuah mimpi yang sempat mengesalkanku karena bukan hal yang nyata.

“Ayo bangun! Jangan malas-malasan terus. Sekarang sudah jam setengah tujuh.” Lanjut mama seraya menarik selimut yang sejak beberapa jam yang lalu membalut tubuhku, melindunginya dari dinginnya malam.

“A???! Setengah tujuh, Ma?!” aku tersentak kaget mendengar pernyataan mama barusan, lalu aku cepat-ceat masuk ke kamar mandi. Dalam hitungan ke lima, keluar dan berpakaian. Tanpa sarapan, aku berpamitan pada kedua orang tuaku lalu buru-buru keluar dari rumah.

Baru saja aku membanting pagar di belakangku, Dinal datang dengan motornya dan menyuruhku naik, setelah lebih dari seminggu dia tidak menawarkan dirinya untuk mengantarku ke sekolah. Mungkin inilah arti mimpiku, pikirku. Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung naik ke motornya.

Dinal adalah tetangga depan rumahku yang sudah lama aku kagumi secara diam-diam dan tersembunyi. Dia adalah cowok yang baik, sopan, dan tentunya banyak lagi hal positif yang ada dalam dirinya, dan yang kusukai tentunya. Dan sudah kupastikan dengan mata kepalaku sendiri, selama ini dia masih sendiri alias jomblo.

Waktu berputar begitu saja dan aku semakin menyukainya. Setiap pagi, walaupun berbeda sekolah, dia selalu mengantarku dengan motornya hingga sampai di depan sekolahku.

“Rim, aku mau tanya sesuatu sama kamu.” Ungkapnya saat duduk berdua di depan rumahku.

“Apa?” tanyaku dengan sok lugu tapi penuh kegembiraan dan berharap dia akan bertanya tentang ada atau tidaknya pacarku saat ini.

“Minggu besok di sekolahku ada pensi, kamu mau kan pergi sama aku?” tanyanya.

“Umm…, boleh.” Jawabku dengan sedikit kekecewaan, tapi ajakannya itu juga tidak mampu membendung kegiranganku.

“Ya udah, besok jam sembilan. Oke?” balasnya penuh semangat dan aku hanya bisa tersenyum melihatnya.

Keesokan harinya, saat aku telah berada di pensi sekolah Dinal bersamanya, tiba-tiba tanpa sepengetahuanku, Dinal naik ke atas panggung dan mengambil mikrofon lalu mengatakan sesuatu pada banyak orang.

“Hai semua! Aku Dinal dari kelas 3 Ia2, disini aku mau bicara tentang hati.” Gumamnya dan membuat semua orang tersenyum dengan wajah yang kemerahan karena senang. “Aku menyukai seseorang yang baik, penuh semangat, dan ramah. Tapi aku nggak berani bilang ke dia kalau aku suka dia. Tapi sekarang, setelah sekian tahun aku pendam rasa ini, akhirnya keberanianku terkumpul juga.” Lanjutnya dan membuatku cemas, entah kenapa.

“Aku harap, sekarang semuanya tenang karena aku akan menelpon orang yang aku sukai itu.” Lanjutnya.

Tiba-tiba jantungku berdegup cepat sekali saat hpku dengan mantapnya berteriak dari balik kantong kecil di celanaku dan spontan seluruh mata tertuju padaku.

Kulihat layar di hpku dan kudapatkan nama Dinal berkelap-kelip disana. Kupalingkan wajahku ke Dinal, lalu dia memberiku sinyal agar aku menerima telpon darinya.

Akhirnya kuterima telpon darinya, lalu dia berkata “Rima, aku sayang kamu. Mau nggak jadi pacar aku?” tanyanya lewat telpon tapi juga menggunakan mikrofon dan membuatku terkesan ditambah dengan riangnya bukan main. Dan gugup karena semua mata melihat ke arahku.

Beberapa saat kemudian, dengan banyak pertimbangan dan waktu yang lama, kuhilangkan semua rasa malu itu, lalu dengan wajah tersipu aku menjawab, “Oke!” dan Dinal pun berjalan menuju tempatku lalu menggenggam jemariku dan tersenyum manis padaku.

Kupikir hidupku yang dulunya penuh dengan rahasia tentang cowok manis yang ada di depanku ini, harus kuakhiri dengan segala kejujuran padanya. Tapi bukan berarti aku akan memberitahunya bahwa setiap malam aku harus menunggu dengan konyolnya dari balik jendela kamarku hanya untuk mencari wajahnya di balik tirai kamarnya. Itu adalah hal yang sangat memalukan, biarkan saja tetap menjadi rahasia terindahku.

–Secret….sstt!!!–

Mei 12, 2007

Hello world!

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — fAny @ 2:32 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Blog pada WordPress.com.